UA-66577810-1

Monday, August 24, 2015

Dampak obesitas atau kegemukan terhadap kesehatan

zonaku-zonasehat.blogspot.com


Dampak obesitas atau kegemukan terhadap kesehatan


kegemukan terbukti menurunkan harapan hidup


Berat badan berlebihan memiliki keterkaitan dengan berbagai macam penyakit, khususnya penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus tipe 2, apnea tidur obstruktif, kanker tertentu, osteoartritis dan asma. Oleh karena itu, kegemukan terbukti menurunkan harapan hidup.
                       
Risiko kematian relatif selama lebih dari 10 tahun pada pria (kiri) dan wanita (kanan) kulit putih yang belum pernah merokok di Amerika Serikat berdasarkan IMT.
Kegemukan adalah salah satu dari penyebab kematian yang dapat dicegah utama di dunia. Studi berskala luas di Amerika dan Eropa menunjukkan bahwa risiko mortalitas paling rendah terjadi pada IMT 20–25 kg/m2 pada kelompok non-perokok dan 24–27 kg/m2 pada kelompok perokok, dengan risiko yang kian meningkat seiring perubahan angka IMT ke kedua arah. IMT lebih dari 32 berhubungan dengan angka kematian dua kali lipat lebih tinggi pada wanita setelah 16 tahun kemudian. Di Amerika Serikat, kegemukan diperkirakan menambah jumlah kematian sebanyak 111,909 hingga 365,000 per tahun, sementara 1 juta kematian (7.7%) di Eropa berhubungan dengan berat badan berlebihan. Kegemukan rata-rata akan mengurangi harapan hidup hingga enam hingga tujuh tahun: IMT 30–35 mengurangi harapan hidup dua hingga empat tahun, sementara kegemukan berat (IMT > 40) mengurangi harapan hidup hingga 10 tahun.

Kegemukan meningkatkan berbagai risiko gangguan fisik dan mental


Kegemukan meningkatkan berbagai risiko gangguan fisik dan mental. Komorbiditas ini paling sering terlihat pada sindrom metabolik, yang merupakan kombinasi gangguan medis berupa: diabetes melitus tipe 2, tekanan darah tinggi, kolesterol darah tinggi, dan kadar trigliserida tinggi.

Komplikasi dapat secara langsung disebabkan oleh kegemukan, atau secara tidak langsung berhubungan dengan mekanisme yang juga menyebabkan kegemukan, seperti asupan diet yang tidak sehat atau akibat gaya hidup kurang bergerak. Terdapat variasi kekuatan hubungan antara kegemukan dengan penyakit tertentu. Salah satu hubungan yang paling kuat adalah dengan diabetes tipe 2. Kelebihan lemak tubuh merupakan penyebab 64% kasus diabetes pada pria dan 77% pada wanita.

Konsekuensi kesehatan yang terjadi dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu: konsekuensi akibat meningkatnya massa lemak dan konsekuensi yang akibat meningkatnya jumlah sel lemak (diabetes, kanker, penyakit kardiovaskular, penyakit perlemakan hati non-alkoholik). Peningkatan lemak tubuh mengubah respon tubuh terhadap insulin sehingga berpotensi menyebabkan penolakan insulin.
penyakit jantung iskemik, gagal jantung kongestif, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tidak normal, trombosis vena dalam dan emboli paru, Dermatologi, gurat peregangan, diabetes mellitus, gangguan menstruasi, mandul, komplikasi selama kehamilan, Kelainan bawaan, kematian janin dalam kandungan, penyakit perlemakan hati, kolelitiasis (batu empedu), stroke, migren, sindroma saluran karpal, payudara, ovarium, hati, pankreas
kandung empedu, lambung, endometrium, serviks, prostat, ginjal, depresi pada wanita, stigma sosial, sindrom hipoventilasi kegemukan, asma, Peningkatan komplikasi selama anestesi umum, sulit bergerak, nyeri punggung, disfungsi ereksi, gagal ginjal kronis, penis terbenam.

Meskipun dampak negatif kegemukan terhadap kesehatan pada populasi umum ditunjang oleh bukti yang kuat, namun kesehatan subgrup tertentu tampaknya lebih baik bila angka IMT-nya lebih besar.

Pasien gagal jantung dengan IMT antara 30,0 dan 34,9 menunjukkan angka kematian yang lebih rendah dibandingkan pasien dengan berat badan normal. Hal ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa berat badan seseorang akan semakin turun seiring dengan bertambah beratnya penyakit. Hal serupa juga telah ditemukan pada jenis penyakit jantung yang lain. Pasien dengan kegemukan kelas I yang mempunyai penyakit jantung tidak lebih cepat berkembang menjadi gangguan jantung lanjut dibandingkan pasien dengan berat badan normal yang mempunyai penyakit jantung. Meskipun demikian, pada pasien dengan tingkat kegemukan yang lebih berat, risiko gangguan jantung lanjut akan meningkat. Meskipun telah dilakukan operasi jantung bypass, peningkatan angka kematian pada kelompok dengan berat badan lebih dan kegemukan tetap tidak ditemukan . Sebuah studi menunjukkan bahwa kesintasan yang lebih baik tersebut mungkin disebabkan oleh pengobatan pasien kegemukan yang lebih agresif setelah terjadinya serangan jantung. Studi lain menunjukkan bahwa bila penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) juga ditemukan pada pasien dengan penyakit arteri perifer maka kegemukan tidak lagi menjadi kondisi yang menguntungkan. 
Baca juga: Dampak obesitas atau kegemukan terhadap ekonomi

Via: berbagai sumber